| |
|
 
Sang Netpreneur E Marketing Thu, 08 May 2008 16:53:00 WIB Oleh Bob Julius Onggo*
“Berusia 20-an, dan pakaiannya tidak rapi, tidak terlalu bisa mengenakan dasi, bercelana dan berkaos pendek, tidak terlalu pandai berkomunikasi, jago komputer dan internet, bekerja di mana saja dan kapan saja, berteman erat dengan komputer, banyak uang dan ditempel ketat oleh para venture capitalist (VC).”
Begitulah kira-kira impian seorang netpreneur di awal tahun 1999, dan kenyataannya sempat terjadi hanya beberapa saat saja sebelum ambruknya dotcom dan hilangnya kepercayaan investor VC.
Netpreneur adalah entrepreneur yang memanfaatkan kekuatan internet untuk mengorganisasi, mengoperasikan, memasarkan, mempromosikan dan berbisnis dengan segala resikonya.
Netpreneur Generasi Pertama Namun kenyataannya seorang netpreneur generasi pertama hanya tahu dan trampil masalah-masalah teknis saja. Mereka tidak banyak tahu masalah bisnis, penjualan dan pemasaran dengan memanfaatkan berbagai macam channel pemasaran (marketing mix).
Netpreneur generasi pertama menyangka bahwa dengan memiliki kemampuan teknologi internet, dan terampil dalam membuat situs web korporat yang “cantik” serta pengetahuan desain yang memukau dan menaruhnya di dunia maya, maka para pengunjung langsung membelinya, dan cepat kaya. Kalau ini benar, maka para lulusan webmaster, dan web programmer sudah menjadi netpreneur duluan.
Karena itu dengan melelehnya dotcom, banyak dari netpreneur ini harus belajar atau punah sebelum datangnya netpreneur generasi kedua, seperti yg diprediksi oleh Josh Pickus, mitra dari Bowman Capital Management di San Mateo, California, AS.
Menarik juga untuk disimak, Newsweek bulan Mei, 2001, mengungkapkan bahwa tahun 2005, 50% dari kebanyakan entrepreneur di Amerika Serikat adalah berasal dari sektor UKM berbasis home-based. Tentunya hal itu lebih dimungkinkan dengan pengetahuan bisnis dan pemasaran yang memanfaatkan kekuatan Internet.
Diharapkan juga di Indonesia dengan membaiknya infrastruktur dan tidak monopoli pasar sehingga rakyat indonesia dapat mengakses internet dengan biaya rendah sehingga B2C akan dapat berjalan dengan baik, sehingga akan membuka jalan bagi B2B yang solid.
Netpreneur Generasi Kedua yang Ideal Jelas bukan dari sini, bahwa seorang netpreneur, bukanlah harus seorang yang mandiri dan seorang superman dalam menjalankan bisnisnya. Dan ia tidak harus berlatarbelakang webmaster atau TI, namun memiliki wawasan yg kuat akan dunia teknolgi Informasi, termasuk customers-facing technology-nya (karena tidak semua teknologi customers-friendly) dan mengerti seluk-beluk manajemen, bisnis dan pemasaran dan sanggup menerjemahkannya ke dalam bentuk hitungan finansial seperti ROI, NPV, cashflow, dan tak kalah penting juga empati dan peduli akan kebutuhan para prospek dan pelanggan.
Jadi idealnya memang seorang marketer profesional yang bertanggung jawab dalam mengarahkan visi, dan misi pemasaran, karena ruang lingkupnya mencakup advertising, PR, targeted marketing, customer service, order entry, billing, termasuk juga, fulfillment, dan pemasaran produk, dan memiliki hubungan yang kuat dengan pengembangan produk, manufacturing, dan logistik. Secara de facto adalah pemilik dari seluruh database profil pelanggan korporat. Tak kalah penting juga harus memiliki kemampuan copywriting yang emosional mengingat mereka harus meyakinkan prospek melalui tulisan-tulisannya entah yang ditaruh di situs web bisnis atau di emailnya. Dan mengerti psikologi sales offline kemudian online.
Karena jangan bicara mampu menjual secara online, kalau menjual secara offline saja belum mampu.
--- o0o ---
|  |
 
Other articles
|
|
|
|