• E-mail Palsu Mengatasnamakan CBN   • Libur Memperingati Hari Natal   • Fasilitas Gratis Baru E-mail Spooling Filtering
  NEWS | TECH |JOB |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Headline | Hot Topic | Politics | Economy | General | Sports | Regional | Law & Crime
 
   
Hot Topic  
 






Mereguk Asa Mobil Nasional Melalui Mobil Kiat Esemka?
Hot Topic Mon, 09 Jan 2012 14:27:00 WIB

Tahun 2012 ini nampaknya memberikan berkah baru bagi dunia industri otomotif Indonesia. Ingatlah satu nama ini, Kiat Esemka, adalah sebuah nama brand produk otomotif terbaru yang bakal membanjiri wilayah Indonesia. Kenapa? sebab nilai yang tertanam dari brand dan produksi mobil tersebut mencerminkan kebanggaan bagi rakyat Indonesia. Sebuah kebanggaan dari bangsa yang telah lama terbenam diantara berbagai berita korupsi dan intrik politik yang terjadi marak belakangan ini. Nilai kedua adalah keberhasilan Kiat Esemka ini ditelurkan oleh Siswa SMK 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta. Buah pikir dan hasil karya putra bangsa sendiri dengan berbagai keterbatasannya mampu menelurkan karya otomotif yang layak untuk dibanggakan.

Sesuai dengan namanya, mobil Kiat Esemka yang diproduksi oleh siswa-siswa SMK dengan sebagian besar hasil rakitan dan bermaterial lokal dalam negeri merupakan kebanggaan baru bagi bangsa ini. Tepatnya, setelah lama bangsa ingin mengimpikan bisa memproduksi mobil sendiri dengan rakitan dan material yang asli dalam negeri. Kemunculan mobil Kiat Esemka kini menjadi perbincangan nasional. Meski belum menjanjikan peluang industri secara massal. Namun, Esemka yang merupakan karya pelajar tanah air ini diyakini memiliki peluang cerah bagi dunia industri dalam negeri.Apa yang terjadi di Solo menjadi pendorong, patut diapresiasi. Apalagi, Mobil Esemka suatu embrio, cikal bakal mobil nasional. Langkah Wali Kota Solo Joko Widodo yang mengganti mobil dinasnya dengan mobil Kiat Esemka juga menuai pujian.

Indonesia sebenarnya, telah lama memimpikan memiliki mobil nasional. Impian ini pernah disampaikan secara khusus oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Untuk tindak lanjutnya, beberapa prototipe mobil nasional pun telah disiapkan sebagai solusi mobil murah angkutan pedesaan seperti mobil merk GEA, Tawon dan lainnya. Namun untuk sebuah industri mobil skala nasional, perlu melalui berbagai tahapan. Kegagalan, tentu bukan hasil buruk yang ingin dihadapi pemerintah. Apalagi Indonesia pernah punya pengalaman kegagalan mobil nasional merk Timor. Di Orde Baru kan, (upaya) produksi mobil nasional gagal dan (rasanya) seluruh bangsa kini tidak ingin gagal lagi. Di seluruh dunia, industri otomotif itu merupakan industri yang padat karya dan modal juga padat teknologi. Itu sangat penting bagi masyarakat Indonesia.

Komisi VI DPR yang membidangi perindustrian, perdagangan, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pemangku kepentingan (stake-holder) terkait masalah mobil nasional (mobnas). "Dalam kesempatan pertama, komisi kami mengagendakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan seluruh stake-holder yang terkait dengan program mobil nasional (Mobnas), khususnya menyangkut produk Esemka," kata Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima, pada Ahad (8/1). Ia menambahkan, RDP itu diadakan untuk mendukung percepatan realisasi program Mobnas sekaligus menindaklanjuti fenomena mobil Esemka yang menyedot perhatian publik sekarang ini.

RDP Komisi VI DPR, menurutnya, antara lain akan memanggil Deputi Bidang Industri Strategis dan Manufaktur Kementerian BUMN, dan Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian. Selain itu, lanjutnya, diundang pula pelaku industri otomotif nasional, PT Industri Kereta Api (INKA), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Gubernur Sulawesi Selatan Syahril Yasin Limpo, Wali Kota Solo Joko Widodo, dan akademisi. Hasil RDP akan menjadi bahan rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan Pemerintah. "Dari rapat kerja dengan pemerintah ini diharapkan muncul keputusan politik yang bisa mempercepat realisasi program mobil nasional yang kita dambakan bersama," demikian tutupnya.

Pengamat industri otomotif Suhari Sargo mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam proyek mobil nasional. Soalnya, sejumlah proyek mobil dalam negeri yang pernah digarap mandek di tengah jalan. Bahkan, dibanding Malaysia, proyek mobil nasional di Indonesia jauh tertinggal. "Kenapa? Inilah yang harus ditanyakan alasannya proyek itu tak kunjung terealisasi," ujarnya. Sementara itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat, yang menaungi izin produksi juga mendukung Esemka jadi produk massal. Namun Hidayat mengingatkan, supaya bisa diproduksi massal, kendaraan harus melewati tahap pengujian dan standarisasi dari pemerintah. "Butuh persiapan panjang," kata M.S Hidayat. Tak cuma itu, Hidayat mengatakan, perusahaan pembuat mobil juga harus menyediakan jaringan layanan purnajual, termasuk bengkel dan suku cadang. Untuk tahap awal, Hidayat akan mengutus salah satu Direktur Jenderal agar mengunjungi SMK 2 dan SMK Warga untuk mempelajari spesifikasi mobil yang kini menjadi mobil dinas Walikota dan Wakil Walikota Solo ini.

Sejatinya Esemka bukanlah mobil pertama yang berhasil diciptakan oleh generasi muda Indonesia. Mobil-mobil karya anak bangsa lainnya juga lebih dulu hadir, seperti Komodo, Tawon, Gea, Marlip, Maleo, Wakaba, Timor, Esemka Digdaya. Tapi sayangnya, mobil-mobil karya anak bangsa ini tidak mendapatkan perhatian lebih. Mereka bahkan tidak dapat tempat khusus dalam  ajang pameran otomotif terbesar di tanah air, Indonesia International Motor Show (IIMS) 2011 lalu. Mereka hanya menempati stand kecil di pojokan.

Akankah Kiat Esemka bernasib seperti yang lain?
Persyaratan dalam dunia otomotif sangat ketat lantaran terkait dengan keselamatan manusia. Sehingga upaya menjadikan mobil Kiat Esemka sebagai sebagai rintisan mobil nasional (Mobnas) tidak bisa berjalan sepihak melainkan harus didukung kemauan politis (political will) pemerintah dan legislator.

Kiat Esemka setahap demi setahap makin dekat pada status mobil nasional. Mobil hasil rakitan siswa-siswa SMK yang didanai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kiat Motor Klaten ini, dikabarkan sudah mendapatkan investor. Sebelum Kiat Esemka, sudah banyak mobil-mobil nasional yang mencoba peruntungannya di pasar otomotif Indonesia. Namun, kebanyakan akhirnya tergerus dan kalah bersaing dengan merek-merek mapan baik asal Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. “Semua harus berlandaskan kebutuhan pasar. Kiat Esemka ini memang sudah memiliki konsep dan keinginan, dan tinggal eksekusi atau realisasi yang benar-benar matang. Pengembangan tersebut harus disesuaikan dengan target yang ingin ditembus,” jelas pengamat otomotif Suhari Sargo. Ditambahkannya, "Disinilah sebenarnya peran pemerintah dibutuhkan oleh Esemka untuk menjadi sebuah mobil nasional. Dukungan pemerintah seperti fasilitas produksi, investasi serta dicarikan industri penunjang yang dibutuhkan dalam memproduksi sebuah mobil. Berkaca pada sejarah mobil nasional, kita pernah punya Timor. Namun, dari awal perencanaan Timor sudah lemah. Timor itu mengincar segmen sedan yang pada saat itu pasar sedan masih sangat kecil. Lalu ada perubahan regulasi seiring pergantian kepemimpinan, langsung berimbas pada kehancuran Timor". Suhari memberikan saran, ada baiknya ditinjau kembali sasaran Esemka sebelum melangkah lebih jauh. Esemka lebih tepat bila menyasar pada pasar di daerah atau pedesaan. “Orang di desa seperti petani itu tidak membutuhkan sebuah desain menarik, atau fitur-fitur canggih. Mereka hanya ingin sebuah kendaraan yang fungsional dan berguna menunjang aktivitas harian. Ini lebih tepat daripada harus langsung head-to-head dengan pabrikan mapan,” tutup Suhari.

Hidup Matinya Mobil Nasional Indonesia
Sport Utility Vehicle (SUV) Kiat Esemka bukanlah mobil pertama yang diproduksi bangsa Indonesia. Situs wikipedia menyebut 16 merk lain yang dikembangkan pelaku industri otomotif nasional sejak dekade 1990 hingga saat ini. Sayang, sebagian dari proyek inovatif itu kolaps lantaran berbagai masalah, di antaranya krisis moneter dan gejolak politik 1998. Mobil nasional pertama dikembangkan oleh Bakrie and Brothers pada 1994. Kendaraan minibus yang dinamai Beta 97 MPV itu dirancang oleh rumah desain otomotif Shado asal Inggris. Purwarupa Beta kelar pada 1997 tapi pengembangannya terhenti karena krisis moneter.

Selang setahun dari langkah Bakrie, Presiden Soeharto menelurkan kebijakan pengembangan mobil nasional Timor atau kependekan dari Teknologi Industri Mobil Rakyat. Berbekal dukungan politik itu, putra bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra, mengembangkan sedan Timor S515. Mobil ini merupakan polesan dari Kia Sephia 1995 produksi Korea. Setelah menelurkan s515, Timor sebetulnya akan mengembangkan sedan S2 dengan kandungan lokal 90 persen. Proyek ini kandas karena krisis moneter.

Bersamaan dengan pengembangan Timor, B.J. Habibie yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi, merancang mobil bernama Maleo. Sedan berkapasitas mesin 1200 cc ini dibuat dengan komponen lokal 80 persen dan akan dijual seharga Rp 30 juta. Toh pengembangannya mandek karena dana risetnya tersedot oleh Timor.

Tapi tak semua proyek mobil nasional gagal. Selain Kiat Esemka, saat ini ada beberapa merk yang tengah bangkit dan siap dipasarkan antara lain mobil mini GEA buatan PT Industri Kereta Api, Nuri dan Tawon buatan PT Super Gasindo Jaya, mobil listrik Marlip produksi Lembaga ilmu pengetahuan Indonesia serta mobil offroad Komodo lansiran PT Fin Komodo Teknologi.

Ide segar dari Kiat Esemka rupanya telah memberikan energi baru untuk industri otomotif Indonesia. Spontan perhatian masyarakat pun terus tertuju dan memberikan dukungan kepada Esemka, termasuk Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo). Dan kini Gaikindo juga mempersilakan bila mobnas seperti Esemka untuk bergabung dalam satu payung Gaikindo. Seperti yang disampaikan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Gaikindo Jongkie D. Sugiarto. "Kita (Gaikindo) menyambut baik Kiat Esemka, dan nanti kalau mereka sudah menjadi ATPM dan mau ikut anggota Gaikindo ya silakan, kita sambut," ujar Jongkie. Jongkie pun menambahkan bahwa Gaikindo hanya berperan sebagai asosiasi untuk para gabungan kendaraan bermotor. Oleh karena itu Gaikindo tidak bisa bisa mencampuri urusan Kiat Esemka lebih dalam lagi.

Kiat Esemka memberikan banyak harapan, namun jangan sampai harapan itu cepat menguap hanyak karena terlalu banyak intrik. Jalan menjadikan mobil nasional sebagai raja di negeri sendiri itu jalan yang panjang dan tentu berlikunya.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengingatkan bahwa uji kelayakan mobil Esemka masih harus ditempuh sebelum mobil itu bisa diproduksi secara massal. "Sembrono" bila Jokowi langsung menggunakan mobil yang belum dapat surat tanda laik jalan dari Departemen Perhubungan, apalagi dipakai untuk mobil dinas. Demikian kira-kira komentar Gubernur Bibit.

Lantas, apakah Esemka belum pernah mengajukan uji kelayakan dan surat-surat terkait? Menurut Wakil Wali Kota Solo, pihaknya sudah memulai proses pengurusannya sejak dua tahun lalu kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Namun hingga saat ini, izin tersebut tidak kunjung turun.

"Benturan" birokrasi pun sejenak menghentikan kebanggaan menjadi rakyat yang anak bangsanya bisa memproduksi mobil SUV. Wali Kota Solo dan wakilnya pun memarkirkan dua mobil Esemkanya. Mereka kembali ke Camry masing-masing, setelah dua hari menjadi mobil dinas. Alasan mereka sangat masuk akal, karena memang tak patut berkendara dengan mobil yang tidak punya kelengkapan surat-surat. Klise. Dan kebanggaan ini pun harus terjegal.

Kenapa kita tidak bisa menjadi raja di negeri sendiri? Negeri yang konsumsi kendaraan bermotornya luar biasa "rakus". Bagaimana tidak dibilang rakus? Saban tahun Indonesia bisa membeli tak kurang dari 870.000 mobil dan delapan juta sepeda motor. Hampir semua merek pabrikan dari luar negeri punya showroom di negeri kita. Ini bukti nyata bahwa semua ingin menikmati sedapnya pangsa pasar mobil dan sepeda motor Indonesia. Padahal, Indonesia adalah negeri berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa dan daya beli yang terus meningkat. Terutama lantaran jumlah kalangan menengah dan atas yang terus tumbuh. Pertanyaan yang tersisa. Jika teknologi itu sudah ada, sumber daya manusia atau SDM juga mumpuni, lantas kenapa urusan paperworks menghalangi bangsa Indonesia untuk sesaat bisa bangga dengan produknya sendiri?

Sumber: CBN




Other articles

Mengapa Kasus Korupsi Tidak Menyusut
Wed, 14 Dec 2011 08:30:00 WIB
Abaikan Pemeliharaan
Mon, 05 Dec 2011 10:01:00 WIB
SEA Games XXVI
Terbanglah 'Garuda Muda'!

Mon, 21 Nov 2011 13:20:00 WIB

 

 
Fajar.co.id VOA News Beritanet Berita8 dotcom
 
 
1.100
perhari pertumbuhan jumlah kendaraan di Jakarta berdasarkan catatan Pemprov DKI Jakarta

(Majalah Area)
 
Currency Rate
 
Wed, 22 May 2013 16:18:00 WIB
 SALEBUY
USD9910.009610.00
SGD7796.907696.90
HKD1265.601249.60
AUD9696.309363.30
JPY96.7593.05
EUR12840.9512423.95
Source: BCA
 
Weather
 
Wed, 22 May 2013 07:30:00 WIB
Jakarta24-33°C
Denpasar25-32°C
Surabaya25-33°C
Medan24-35°C
Makassar24-32°C
Bandung21-31°C
Source: bmg.go.id